Aino Indonesia

Cashless Parking Rumah Sakit: Implementasi Full Manless di RS Queen Latifa Yogyakarta

Manless Parking RS Queen Latifa

Cashless parking rumah sakit bukan hanya tentang mengganti pembayaran tunai menjadi digital. Sistem parkir perlu memberikan proses masuk dan keluar yang sederhana, cepat, dan dapat diandalkan, terutama karena aktivitas rumah sakit berlangsung selama 24 jam.

 

Parkir di rumah sakit berbeda dengan parkir di mall atau apartemen. Pengunjung bisa datang dalam kondisi terburu-buru, cemas, atau fokus mendampingi pasien. Karena itu, hambatan kecil di gerbang parkir dapat terasa lebih mengganggu.

 

Palang yang tidak terbuka, proses pembayaran yang lambat, atau metode pembayaran yang terbatas dapat menambah friksi pada pengalaman pengunjung.

 

Karena itu, sistem parkir rumah sakit perlu dirancang bukan hanya untuk mengatur kendaraan, tetapi juga memberikan proses masuk dan keluar yang sederhana, cepat, dan dapat diandalkan.

 

Salah satu contohnya diterapkan di RS Queen Latifa, Yogyakarta, melalui sistem parkir yang 100% cashless dan full manless bersama AINO dan mitra penyedia sistem parkir Duta Parking.


Sekilas RS Queen Latifa Yogyakarta

RS Queen Latifa merupakan rumah sakit swasta di kawasan barat Yogyakarta, khususnya wilayah Sleman dan sekitar Ring Road Barat.

 

Berawal dari Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin pada 2001, fasilitas ini berkembang menjadi Rumah Sakit Umum pada akhir 2009. Saat ini, RS Queen Latifa memiliki layanan IGD 24 jam dan berbagai klinik spesialis.

 

Dengan aktivitas rumah sakit yang berlangsung sepanjang hari, area parkir juga perlu siap melayani kendaraan kapan saja. Pengalaman pengunjung tidak hanya terbentuk dari layanan medis, tetapi juga sejak mereka tiba hingga meninggalkan rumah sakit.


Full Manless dan 100% Cashless Sejak Awal

Di RS Queen Latifa, sistem parkir dirancang untuk berjalan tanpa petugas manual di gerbang dan tanpa pembayaran tunai.

 

Pada pintu keluar, kendaraan berhenti di depan perangkat dispenser dengan layar berukuran besar. Sistem ini dilengkapi QRIS untuk pembayaran non-tunai, reader Kartu Uang Elektronik (KUE), serta barcode reader untuk membaca karcis parkir.

 

Dengan konfigurasi tersebut, pengguna dapat menyelesaikan proses parkir tanpa harus berinteraksi dengan kasir di gerbang.

 

Bagi rumah sakit yang beroperasi 24 jam, pendekatan full manless parking membantu mengurangi ketergantungan pada petugas di titik keluar-masuk. Sementara sistem 100% cashless menghilangkan kebutuhan untuk menangani uang tunai dan uang kembalian di lapangan.


Perangkat yang Menyesuaikan Kebutuhan Parkir

Tidak semua lokasi membutuhkan konfigurasi perangkat yang sama.

 

Ada lokasi yang cukup menggunakan reader Kartu Uang Elektronik (KUE) sederhana. Ada pula yang membutuhkan perangkat dengan fungsi lebih lengkap. Karena itu, sistem pembayaran perlu dapat menyesuaikan dengan infrastruktur parkir yang sudah tersedia.

 

AINO menyediakan pendekatan integrasi yang fleksibel. Reader KUE dapat digunakan secara terpisah, sementara penerimaan QRIS dapat diintegrasikan melalui API ke dispenser atau sistem parkir eksisting milik mitra.

 

Di RS Queen Latifa, digunakan dispenser dengan layar besar untuk menampilkan QRIS secara jelas. Layar tersebut juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai media informasi atau promosi layanan rumah sakit.

 

Sementara itu, reader KUE Payment Device AINO ditempatkan secara terpisah dengan ukuran yang ringkas. Konfigurasi ini menjaga perangkat tetap praktis sekaligus menyesuaikan struktur dispenser yang sudah tersedia.


Apa yang Ditemukan dari Data Transaksi?

Selain melihat sistem di lapangan, data transaksi KUE RS Queen Latifa periode 2–31 Agustus 2026 memberikan gambaran mengenai perilaku pengguna parkir.

 

4 Jenis KUE dalam Satu Reader

Sistem mendukung empat jenis Kartu Uang Elektronik dalam satu reader:

⦿ Mandiri e-Money

⦿ BCA Flazz

⦿ BRI Brizzi

⦿ BNI TapCash

 

Dukungan multi-payment ini memberikan pilihan bagi pengunjung yang menggunakan kartu dari penerbit berbeda.

 

Bagi rumah sakit, fleksibilitas tersebut penting karena pengguna parkir bukan hanya pasien. Ada keluarga pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, vendor, dan berbagai pihak lain yang datang dengan kebiasaan pembayaran berbeda.

 

Sekitar 2.870 Kartu Unik

Dari data transaksi, terdapat sekitar 2.870 kartu unik. Menariknya, 67% kartu hanya tercatat melakukan transaksi satu kali.

 

Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna merupakan pengunjung insidental, bukan pengguna yang bertransaksi rutin setiap hari.

 

Hal tersebut menjadi pertimbangan penting dalam merancang sistem parkir rumah sakit. Pengguna yang baru pertama kali datang harus dapat memahami proses parkir dengan mudah tanpa banyak bantuan petugas.

 

Puncak Transaksi pada Pukul 18.00

Data transaksi menunjukkan puncak aktivitas sekitar pukul 18.00, yang selaras dengan waktu kunjungan sore atau jam besuk.

 

Namun, transaksi tetap berlangsung hingga malam dan dini hari. Artinya, sistem parkir rumah sakit harus tetap siap melayani pengguna di luar jam sibuk, ketika pengawasan manual di lapangan juga lebih terbatas.


Rekonsiliasi Digital Memudahkan Pengelola

Kemudahan cashless parking tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan.

 

Ketika seluruh transaksi tercatat secara digital, tim keuangan rumah sakit tidak lagi perlu menangani pencatatan dan rekonsiliasi uang tunai di gerbang.

 

Pada implementasi RS Queen Latifa, transaksi dapat dipantau melalui dashboard berbasis web. Data yang terpusat membantu proses monitoring, pelaporan, dan rekonsiliasi menjadi lebih terstruktur.

 

Bagi pengelola, hal ini dapat membantu:

⦿ Mengurangi pekerjaan rekonsiliasi manual.

⦿ Memusatkan data transaksi.

⦿ Memudahkan monitoring dan pelaporan.

⦿ Mengurangi potensi kesalahan pencatatan.

 

Selain itu, proses settlement dilakukan secara terjadwal dengan H+2, sehingga pencairan dana dapat diprediksi oleh pengelola.


Apa yang Dapat Dipelajari?

Implementasi di RS Queen Latifa memberikan beberapa hal yang dapat menjadi perhatian bagi pengelola rumah sakit.

 

1. Parkir adalah bagian dari pengalaman pengunjung.

Bagi keluarga pasien, proses yang sederhana di gerbang dapat membantu mengurangi friksi ketika datang maupun pulang.

 

2. Cashless dan manless dapat diterapkan sejak awal.

Dengan perencanaan yang tepat, rumah sakit tidak harus melalui transisi panjang dari pembayaran tunai menuju sistem cashless.

 

3. Perangkat perlu menyesuaikan kebutuhan lokasi.

Setiap rumah sakit memiliki kondisi dan infrastruktur yang berbeda. Karena itu, fleksibilitas integrasi lebih penting daripada memaksakan satu konfigurasi perangkat untuk semua lokasi.

 

4. Rekonsiliasi digital memberikan manfaat operasional.

Sistem parkir tidak hanya harus memudahkan pengguna, tetapi juga membantu tim pengelola memantau transaksi dan mengelola data dengan lebih efisien.

 

Cashless parking rumah sakit di RS Queen Latifa Yogyakarta

 

Bagaimana AINO Mendukung Sistem Parkir Rumah Sakit?

Sebagai Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) Kategori 2 yang berlisensi Bank Indonesia sejak 2018, AINO menyediakan infrastruktur pembayaran yang dapat diintegrasikan dengan sistem parkir milik mitra maupun pengelola properti.

 

Pendekatan AINO tidak terbatas pada satu jenis perangkat. Mitra dapat menggunakan reader KUE, perangkat multi-fungsi, maupun mengintegrasikan pembayaran QRIS melalui API ke perangkat eksisting.

 

Beberapa kemampuan yang mendukung sistem parkir antara lain:

 

1. Multi Payment dalam Satu Device

Mendukung KUE dari beberapa penerbit serta QRIS, sehingga pengguna memiliki pilihan pembayaran yang lebih fleksibel.

 

2. Fleksibilitas Integrasi API

Sistem pembayaran AINO dapat diintegrasikan ke perangkat atau sistem parkir eksisting milik mitra melalui API, sehingga tidak selalu membutuhkan penggantian seluruh infrastruktur.

 

3. Real-Time Transaction Monitoring

Transaksi tercatat secara digital dan dapat dipantau secara real-time tanpa menunggu laporan manual.

 

4. Dashboard Analitik

Data transaksi dapat memberikan gambaran mengenai pola kunjungan dan aktivitas parkir untuk mendukung keputusan operasional.

 

5. Rekonsiliasi Real-time untuk Meminimalkan Dispute

Sinkronisasi data antara perangkat gate, sistem parkir, dan payment gateway membantu mendeteksi selisih transaksi lebih awal sekaligus mendukung proses settlement yang lebih terstruktur.

 

Pada RS Queen Latifa, pendekatan tersebut diterapkan bersama Duta Parking dengan mengintegrasikan layanan pembayaran AINO ke dalam infrastruktur parkir yang digunakan di lokasi.

 

Namun, keberhasilan sistem tidak hanya bergantung pada pilihan metode pembayaran. Perangkat, sistem parkir, payment gateway, integrasi, dan monitoring juga perlu bekerja sebagai satu kesatuan.

 

Dengan pendekatan tersebut, pengguna mendapatkan proses parkir yang lebih sederhana, sementara pengelola mendapatkan transaksi yang lebih terstruktur dan mudah dipantau.


Siap Mengembangkan Sistem Parkir Cashless di Rumah Sakit Anda?

Setiap rumah sakit memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari volume kendaraan, pola kunjungan, hingga infrastruktur parkir yang sudah tersedia.

 

AINO dapat membantu mengevaluasi kebutuhan pembayaran digital dan integrasinya dengan sistem parkir di lokasi Anda.

 

Jadwalkan Assessment Gratis bersama tim AINO untuk mendiskusikan kebutuhan sistem parkir rumah sakit Anda.

Jadwalkan Konsultasi Gratis

Isi data diri Anda untuk konsultasi Gratis. Tim kami akan segera menghubungi Anda kembali.

Jadwalkan Assesment Gratis

Isi data diri Anda untuk konsultasi Gratis. Tim kami akan segera menghubungi Anda kembali.

Hitung Potensi Pendapatan Parkir Properti Anda

Dapatkan akses ke kalkulator eksklusif untuk mengestimasi potensi revenue tambahan yang dapat diperoleh melalui pengelolaan parkir yang lebih optimal.

Data Anda hanya digunakan oleh tim Aino Indonesia untuk follow-up konsultasi.
Kami tidak akan membagikan informasi Anda ke pihak ketiga.